Laboratorium Jadi Pertimbangan Lockdown

  • Whatsapp
sumber foto : google

PALANGKA RAYA – Terkait opsi lockdown lokal atau mengunci wilayah guna mencegah penyebaran virus korona. Tim Gugus Tugas Percepatan Pencegahan Covid-19 Kalimantan Tengah (Kalteng) memastikan bahwa pemerintah akan melakukan berbagai pertimbangan dan kajian secara bertingkat.

Suyuti Syamsul Kepala Dinas Kesehatan sekaligus wakil ketua Tim Percepatan Pencegahan Covid-19 Kalimantan Tengah mengatakan, pemerintah akan mempertimbangkan dampak baik dan buruk apabila memutuskan karantina wilayah. Apalagi saat ini sampel pemeriksaan Pasien Dengan Pengawasan (PDP) harus dikirim ke Jakarta melalui jalur udara, sehingga tidak mungkin menutup akses dari semua titik.

Read More

“Memang mengkarantina wilayah ini bisa menekan penyebaran Covid-19, khususnya dari luar daerah. Namun perlu dipertimbangkan dampak-dampak lain apabila hal tersebut dilakukan,” katanya.

Terkait hal tersebut, pihaknya akan menyurati Kementerian Kesehatan (Kemenkes) agar membuka alternatif tempat pengujian sampel di Banjarbaru, Kalimantan Selatan (Kalsel), “Hari ini (kemarin) kami kembali akan menyurati Kementerian Kesehatan untuk membuat alternatif pemeriksaan di Banjarbaru. Hanya saja sekarang ini di Banjarbaru masih kurang komponen primernya,” paparnya.

Di satu sisi, dia mengatakan bahwa Peraturan Pemerintah (PP) yang mengatur soal lockdown lokal ini diperkirakan keluar minggu depan. Untuk itu, pemerintah provinsi juga masih menunggu aturan tersebut turun guna melihat mekanisme dan prosedur terkait karantina wilayah.

”Jadi banyak faktor yang dipertimbangkan dalam hal karantina wilayah, tidak hanya faktor ekonomi, tapi juga karena laboratorium di Kalteng belum siap. Tapi misalkan di Banjarbaru siap tempat uji nya, maka kemungkinan bisa kita mengunci wilayah,” ucapnya.

Terlepas dari itu, dia mengatakan saat ini Kalteng sudah mendapat rapid tes sebanyak 2.400. Hanya saja, rapid tes ini diutamakan untuk tenaga kesehatan yang terlibat dalam penanganan pasien Covid-19 dan beberapa pihaknya di gugus tugas yang memiliki potensi besar terpapar.

Mengutamakan para tenaga kesehatan itu bukan tanpa alasan. Ditegaskan nya bahwa kesehatan mereka harus diperhatikan karena bersentuhan langsung dengan para pasien yang ada di rumah sakit.

“Namun perlu dipahami bahwa rapid tes ini hanya untuk deteksi dini dan bukan untuk diagnosa pasti. Di satu sisi rapid tes ini juga tidak terlalu sensitif, karena hanya 60 persen saja. Jadi risiko negatif palsu dan positif palsu ada pada 40 persen,” pungkasnya.

Related posts