Koran di Inggris Banyak Tutup, Gara-gara Corona?

  • Whatsapp
Ilustrasii Net

Pandemi global Covid-19 telah memengaruhi berbagai sektor dan industri. Salah satu yang ikut terpengaruh adalah industri media. Ambil contoh di Inggris sudah banyak koran tradisional yang menyatakan tutup lantaran menurunnya pemasukan pasca merebaknya virus corona baru di negara tersebut.

Hal tersebut diungkapkan oleh WNI yang tinggal di London, Maria Stela Clarisa Nau. Menurutnya banyak jurnalis yang sudah dirumahkan khususnya yang berasal dari media lokal. Di sisi lain, ada juga jurnalis dari media online yang melakukan pekerjaannya dari rumah. Sebab pihak perusahaan terbilang cukup waspada terhadap kasus virus corona. Dengan sendirinya, perusahaan tersebut menerapkan kebijakan kerja dari rumah atau work from home (WFH).

Read More

“Wartawan media online terutama, tidak perlu datang ke lapangan kalau tidak penting sekali. Pasti metode peliputan sudah sangat berubah total. Ada salah satu media online yang sangat rely on digital visualization untuk membuat masyarakat sadar betapa bahayanya virus corona baru tanpa mereka harus turun ke lapangan,” ujar perempuan yang akrab disapa Stela itu dalam diskusi online yang diselenggarakan oleh AJI Jakarta baru-baru ini.

Stela yang pernah bekerja di Metro TV dan VOA Washington DC itu menuturkan, walaupun sudah banyak jurnalis yang bekerja dari rumah, tetap harus ada yang ke lapangan terutama jurnalis televisi. Terlebih di Inggris setiap sore ada press daily briefing dari pemerintah terkait perkembangan virus corona. Hal itu membuat jurnalis televisi mau tidak mau tetap harus terjun ke lapangan.

“Ada advokasi yang dilakukan, lebih ke informasi bagaimana akses terhadap tes Covid-19 bisa para jurnalis dapatkan. Sehingga mereka bisa melakukan pencegahan atau mitigasi lebih cepat,” ucap Stela.

Dirinya mengaku berdiskusi dengan para jurnalis di Inggris dan yang menjadi fokus utama adalah mengenai tes Covid-19. Jurnalis memang bisa dikatakan termasuk orang-orang yang rentan terinfeksi virus corona baru karena mereka harus turun ke lapangan guna mencari berita dan bertemu banyak orang. Terlebih sekarang ini orang-orang yang positif virus corona sering kali hanya menunjukan gejala ringan atau bahkan tanpa gejala sama sekali.

“Saya rasa ini bukan hanya menjadi concern jurnalis di UK tapi juga jurnalis di negara-negara lain. Bagaimana akses tes Covid-19 ini diberikan kepada mereka yang melakukan pekerjaan esensial seperti petugas medis, jurnalis, cleaning service, petugas delivery mereka yang kerja di e-commerce, dan segala macam. Justru mereka yang di lini depan ini seharusnya punya akses terhadap tes,” tandas Stela.

Related posts