Mualaf Amerika Curhat Ramadhan di Tengah Pandemi Corona

  • Whatsapp
mualaf ilustrasi

Bulan Ramadhan merupakan bulan yang ditunggu-tunggu. Sejatinya ini momen memakmurkan masjid untuk beribadah dan bersilaturahmi.

Bagi para mualaf yang tidak memiliki keluarga muslim, masjid dengan komunitas muslimnya juga menjadi tempat yang menyenangkan untuk memperdalam Islam, apalagi di tengah Ramadhan.

Read More

Namun penutupan masjid-masjid dan aturan physical distancing pada masa pandemi virus corona sangat berdampak pada mereka.

David Misterek dan Sakina merupakan pasangan mualaf, warga Sterling, Virginia, AS. Mereka berdua merasakan dampak yang sangat nyata dari pandemi virus corona.”Ramadhan kali ini sangat aneh,” kata David.

“Ramadhan kali ini sama sekali berbeda dengan tahun lalu, terutama bagaimana kita sholat,” tambah Sakina sang istri.

Aturan physical distancing membuat mereka hanya tinggal di rumah dan tidak bisa datang ke masjid yang juga ditutup.

Padahal bagi mualaf, yang kebanyakan menjadi minoritas di tengah keluarga atau komunitasnya, masjid merupakan tempat andalan yang biasa didatangi untuk belajar. Selain untuk mendapatkan rasa kebersamaan dan kekeluargaan dengan saudara seiman.

Sakina, perempuan Mongolia yang terlahir dengan nama Byambasaikhan Saranchimeg baru satu tahun ini menjadi mualaf. Pada Ramadhan tahun ini ia merasa kehilangan berbagai aktivitas di masjid, terutama diskusi dengan sesama muslim, juga mualaf.

Sementara David, seorang software engineer yang sudah beberapa tahun lebih dulu memeluk Islam, merasakan ada semangat yang hilang kali ini. “Buat saya, Ramadhan sebelumnya adalah waktunya bersilaturahmi, mendapatkan semangat dari berkumpul dengan sesama muslim. Mereka semua datang ke masjid atau halaqah untuk alasan yang sama, untuk lebih dekat kepada Allah. Bagi saya, energi itu, energi yang sangat menguatkan itu hilang kali ini,” ungkapnya.

Meski demikian David bersyukur karena ustadz serta imam masjidnya menawarkan berbagai pelajaran online, kajian mendalam mengenai Alquran dan sirah Nabi Muhammad. Mereka melakukan sebisa mungkin dengan apa yang mereka miliki.

Rasa sepi dan perasaan sendiri juga kerap melanda mualaf yang tidak memiliki teman atau kerabat Muslim. David mengatakan, “Saya juga bersyukur karena saya menikah, jadi saya tidak perlu sholat sendiri. Kalau tidak, rasanya akan sangat sulit, kurang begitu terasa Ramadhannya.”

Hal serupa juga disyukuri Sakina sebab hanya suaminya yang muslim. Tidak ada satupun anggota keluarga lainnya yang muslim di tengah keluarga besarnya.

“Saya dan suami hanya tinggal di rumah dan sholat berjamaah, juga menyimak video ceramah beberapa ustadz,” terang Sakina.

Comfasion (Community Faith Support Organization) yang berpusat di Virgina, mempunyai misi mendampingi dan membantu mualaf dalam perjalanan mereka mengenal Islam seutuhnya. David dan Sakina termasuk yang suka menghadiri kegiatan yang diselenggarakan organisasi ini.

Dengan adanya berbagai pembatasan sosial semasa pandemi ini, Comfasion melakukan beberapa penyesuaian dalam program regulernya.

Pendiri Comfasion, Saroh Thomas mengatakan, adanya pandemi ini, otomatis pertemuan tak ada. Namun kelas online makin banyak.

“Tadinya cuma tiap minggu sekarang ini rencananya ada tiga kelas. Jadi makin banyak karena Zoom lebih luas capaiannya,” ujar Saroh.

Agar para mualaf tidak merasa sendiri, Saroh juga menyempatkan diri bertegur sapa dengan menelepon atau mengirimi mereka SMS. Khusus untuk Ramadhan kali ini, ia menyiapkan kegiatan mengirim makanan berbuka juga hadiah Idul Fitri untuk mereka.

Sakina merasa organisasi semacam Comfasion berperan penting dalam masa di mana orang harus tinggal di rumah. Bertegur sapa melalui telepon, berpartisipasi dalam kelas-kelas pengajian online sesama mualaf dengan bimbingan ustadz, membuatnya merasa terhubung dengan komunitas muslim.

Namun setiap mualaf sendiri memang harus berusaha berkomunikasi dengan sesamanya untuk mengurangi perasaan kesepian mereka sebagai mualaf.

Seperti dilansir dari Voa Indonesia, menurut David, Ramadhan kali ini adalah ujian bagi semua muslim dan menjadi bahan perenungan. Apakah kondisi seperti ini jadi alasan untuk membatasi atau untuk meningkatkan ibadah mereka.

Mualaf adalah bagian sangat kecil dari warga Muslim Amerika. Pada tahun 2018, sekitar 3,45 juta orang, atau sekitar 0,8 persen dari total populasi Amerika adalah muslim. Namun menurut survei Pew Research Center, Islam masih menjadi agama yang berkembang paling pesat di AS.

Related posts