Ini Kisah Aisha Merawat Pasien COVID-19 Sambil Jalani Puasa 18 Jam

  • Whatsapp
Ilustrasi Net

PANDEMI COVID-19 yang berlangsung saat bulan Ramadhan membuat kehidupan masyarakat menjadi semakin sulit. Khususnya bagi para perawat yang berpuasa sambil bertugas menangani pasien COVID-19.

Seperti yang dialami Aisha Ahmed yang mengaku selama bulan Ramadhan harus menahan lapar dan haus hingga 18 jam setiap harinya.

Read More

Menurutnya, berpuasa sambil bekerja bukanlah masalah yang serius, namun beban kerja yang semakin bertambah serta penggunaan alat pelindung diri (APD) membuat tugasnya menjadi semakin sulit.

Dilansir dari Manchester Evening News, Senin (11/5/2020), Aisha yang bekerja di Pusat Kesehatan Moss Side, bertugas untuk memantau para pasien yang memiliki riwayat masalah kesehatan seperti diabetes dan tekanan darah tinggi. Ia juga sering merawat pasien yang kemudian didiagnosis terinfeksi COVID-19.

“Ketika saya di tempat kerja, saya seakan sekarat di sambil mengenakan masker. Biasanya bekerja selama bulan Ramadhan baik-baik saja dan saya bisa mengatasinya. Tetapi sekarang dengan semua tekanan yang ada, hal ini menjadi 100 kali lebih buruk. Saya memakai hijab, lalu pelindung, masker muka dan kemudian baju pelindung dalam cuaca seperti sekarang,” terang Aisha.

Wanita berusia 38 tahun tersebut mengatakan, jika pekerjaan seperti ini dilakukan pada musim dingin tentu akan sangat berbeda. Sayangnya pandemi ini berlangsung pada musim panas, dan Aisha harus bekerja tanpa kipas angin atau pendingin udara karena takut akan adanya risiko infeksi. Situasi ini yang membuat ia menjadi berkeringat dan sangat haus.

Aisha menyebut cuaca yang sangat panas menyebabkan lepuhan pada kakinya ketika pulang bekerja. Ia juga sempat tidak kuat dan ingin berbuka puasa.

“Saya sudah puasa sejak berusia 10 tahun. Saya tidak pernah tergoda untuk berbuka puasa, tetapi beberapa hari terakhir saya berpikir hanya memerlukan air karena haus. Saya menelepon ayah saya untuk bertanya apakah boleh berbuka puasa karena saya benar-benar dehidrasi dan saya tidak ingin pingsan. Ayah saya mengatakan bahwa saya bisa melakukannya,” lanjutnya.

Setelah melewati masa-masa sulit di tengah dehidrasi, untungnya Aisha berhasil menahan diri untuk tidak membatalkan puasanya. Aisha mengatakan Ramadhan kali ini tidak terasa seperti bulan suci yang biasa mereka lakukan seperti pada tahun-tahun sebelumnya.

Menurutnya pertemuan komunal, doa malam dan waktu bersama keluarga sangatlah penting selama bulan Ramadhan. Sayangnya hal tersebut tidak bisa ia rasakan pada Ramadhan kali ini.

“Rasanya tidak seperti Ramadhan. Anda hanya makan dan merasakan lelah. Saya berasal dari keluarga besar, memiliki lima saudara kandung termasuk orangtua saya. Biasanya kita semua berbuka puasa di rumah, karena saya memiliki meja yang besar. Tapi sekarang anak-anak saya mengatakan tidak bisa bersama-sama karena saudara dan orangtua saya tidak bisa datang,” sambungnya.

Saat ini, Aisha memiliki dua orang anak yang memiliki masalah pada kesehatannya. Oleh sebab itu ia sangat berhati-hati untuk tidak menyebarkan virus. Selain mengganti pakaian yang ia kenakan usai bertugas, ia juga tidak lagi mengenakan cincin kawinnya selama berada di tempat kerja. Aisha menetapkan peraturan dilarang bersentuhan dengan anak-anaknya setelah tiba di rumah sampai ia mandi.

“Anak saya yang berusia dua tahun berlari ke arah saya begitu saya berjalan melewati pintu dan itu sangat sulit karena kadang saya harus berteriak pada mereka untuk tidak mendekati saya. Ini menyedihkan karena anak-anak tidak mengerti, mereka tidak melihat bahaya. Hari-hari di mana saya bekerja sangat sulit karena berbeda dengan ketika saya berada di rumah,” cetusnya.

Aisha mengaku tidak ingin mengambil risiko kepada dua anaknya yang menderita asma. Selain itu orangtua Aisha juga menderita diabetes dan stroke. Oleh sebab itu ia sangat berhati-hati karena takut membawa pulang penyakit usai bertugas.

Terkait dengan Ramadhan, menurutnya ini adalah bulan yang paling menantang secara fisik, mental dan spiritual. Meskipun khawatir dengan keluarga serta tuntutan beban pekerjaan yang semakin berat, namun Aisha masih membuktikan kekuatan imannya untuk tetap melayani masyarakat sesuai sumpah yang dimilikinya.

Suami saya agak khawatir karena dia pikir ini agak berat bagi saya. Dia mengatakan bahwa mungkin seharusnya saya tidak bekerja. Tetapi keduanya harus dilakukan, saya harus berpuasa dan pergi bekerja. Saya sudah menjadi perawat selama 10 tahun. Ini yang selalu saya lakukan, ini adalah pekerjaan pertama saya, saya tidak bisa membayangkan melakukan hal lain. Meskipun ada risiko, saya akan melakukan yang terbaik sebisa mungkin dan sisanya terserah pada Tuhan,” tutupnya.

Related posts