Tuduh Retas Penelitian Covid-19 China Sebut AS Tak Bermoral

  • Whatsapp
Ilustrasi Net

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Zhao Lijian mengatakan Amerika Serikat tidak bermoral karena menuduh China meretas penelitian vaksin covid-19.

“Kami sedang memimpin dunia dalam menangani Covid-19 dan penelitian vaksin. Adalah tidak bermoral menargetkan China dengan rumor dan fitnah tanpa ada bukti,” katanya mengutip BBC, Kamis (14/5/2020).

Read More

Para peretas yang terkait dengan China berupaya menargetkan beberapa lembaga yang sedang meneliti tentang pandemi Covid-19, kata pejabat Amerika Serikat (AS).

FBI mengatakan pihaknya melihat ada upaya peretasan terhadap beberapa lembaga penelitian dan farmasi AS yang sedang meneliti vaksin, penanganan, serta pengujian terkait Covid-19. 

AS sudah sejak lama menuduh pemerintah China melakukan mata-mata siber, dan selalu dibantah oleh Beijing.

Pandemi virus corona telah meningkatkan ketegangan antara kedua negara, yang keduanya saling menuduh satu sama lain gagal dalam menahan penyebaran wabah.

Lebih dari 4,3 juta orang di seluruh dunia telah terinfeksi Covid-19. Dari jumlah itu, lebih dari 83.000 kasus kematian terjadi di AS dan 4.600 kasus kematian di China, ungkap Universitas Johns Hopkins.

Biro Investigasi Federal (FBI) dan Badan Keamanan Siber (Cisa), salah-satu divisi departemen keamanan AS, telah mengeluarkan peringatan bersama – yang jarang terjadi – pada Rabu (13/05). 

Para pencuri dunia maya “sudah diamati berupaya mengidentifikasi dan secara ilegal mendapatkan kekayaan intelektual dan data kesehatan masyarakat” tentang penanganan virus corona, tambah pernyataan itu.

Dalam jumpa pers Senin (11/05) lalu, Presiden Donald Trump merujuk kepada dugaan aktivitas siber China.

“Apa lagi yang baru dengan China? Saya tidak senang dengan China… Kini kamu memberitahu saya mereka meretas. Apa lagi yang baru. Kami terus mengawasinya dengan cermat.”

Para pejabat AS telah lama menuduh China melakukan peretasan dan pencurian kekayaan intelektual.

Pada 2009, AS menuduh para peretas yang terhubung dengan China berhasil menyusup ke data sensitif dari pesawat jet tempur Lockheed Martin F-35. Tidak lama setelah itu, China mengumumkan bahwa pihaknya tengah mengembangkan pesawat jet serupa, Shenyang J-31.

Dahulu para pejabat intelijen AS juga menuduh China menggunakan “non-traditional collectors”, yang mencuri teknologi dari perusahaan-perusahaan AS.

Bill Evanina, Direktur Pusat Kontra-Intelijen dan Keamanan Nasional AS, mengatakan pencurian kekayaan intelektual AS di AS berjumlah sekitar $400 miliar setahun. 

Related posts