Bagaimana Perkembangan Vaksin Virus Corona?

  • Whatsapp
Ilustrasi Net

Para ilmuwan tengah berupaya menemukan vaksin corona yang aman bagi manusia.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, saat ini ada lebih dari 110 kandidat vaksin Covid-19 yang sedang dikembangkan di seluruh dunia.

Read More

“Dan ada delapan kandidat yang sudah memasuki tahapan uji klinik,” ungkap Indra Rudiansyah, kandidat doktor riset vaksin di Jenner Institute, Oxford University.

Dalam acara Webinar Zoom bersama KPG yang dilakukan Jumat (15/5/2020), Indra mengatakan, terdapat lima penelitian yang melakukan uji klinik fase I dan II secara bersamaan.

“Maksudnya (uji klinik) fase I (dan) fase II, sebenarnya penelitian di fase I, tetapi beberapa parameter yang harus dilakukan di fase II seperti efikasi itu sudah dapat dilihat di fase I,” ungkap Indra.

Efikasi vaksin yang dimaksud Indra adalah menguji bagaimana antibodi atau respons imun yang dihasilkan setelah seseorang diberi vaksin, apakah dapat memberikan proteksi pada tubuh.

Dikatakan Indra, uji klinik fase I dan II dapat dilakukan berbarengan karena peneliti menggunakan platform pembuatan virus yang sudah digunakan dalam penemuan vaksin sebelumnya.

“Selain itu, safety profil-nya itu sudah terlihat, bahwa platform vaksin itu aman. Sehingga dalam fase I dan II, (melibatkan) jumlah volunteer yang lebih besar dan efikasinya dapat dilihat,” terang Indra.

Dalam kesempatan tersebut, pria yang terlibat dalam tim uji klinik untuk vaksin Covid-19 di Universitas Oxford ini pun membahas lebih dalam terkait perkembangan vaksin Covid-19 yang dikembangkan di Oxford.

Vaksin yang dibuat oleh ilmuwan Oxford didasarkan pada adenovirus simpanse yang dimodifikasi untuk menghasilkan protein di dalam sel manusia yang juga diproduksi oleh Covid-19. Vaksin ini dinamai ChAdOx1 nCoV-2019.

Diharapkan vaksin ini dapat melatih sistem kekebalan tubuh untuk kemudian mengenali protein dan membantu menghentikan virus corona baru memasuki sel manusia.

Vaksin adenovirus diketahui mengembangkan respons imun yang kuat dengan dosis tunggal dan bukan virus replikasi.

Hal itu membuatnya tidak dapat menyebabkan infeksi, serta lebih aman untuk anak-anak, orang tua, dan pasien dengan penyakit penyerta seperti diabetes.

“Adenovirus yang kita (tim Oxford) gunakan ini bersikulasi di simpanse. Jadi bukan virus yang menginfeksi manusia, artinya virus ini aman. Kemudian, manusia juga tidak memiliki antibodi bawaan terhadap virus ini, artinya virus ini memiliki imunogenisitas yang sangat tinggi,” kata Indra.

“Selain itu, virus ini kita modifikasi secara genetik sehingga virus ini tidak dapat memperbanyak diri pada makhluk hidup baik hewan dan manusia,” paparnya.

Indra menjelaskan vaksin adenovirus yang dikembangkan Oxford juga mampu membawa gen atau DNA dari organisme lain, dalam hal ini adalah gen spike protein virus corona SARS-CoV-2 yang merupakan target vaksin.

Selain itu, ChAdOx1 nCoV-2019 juga disebut aman sebagai pembawa vaksin.

Indra mengatakan, ketika pandemi corona mulai menyebar pertama kali di China, ada ilmuwan China yang mengupload sekuens dari SARS-CoV-2.

Dari situlah para ilmuwan meneliti bagian mana yang mengkode gen untuk memproduksi protein di dalam virus.

Dengan teknologi biologi molekuler modern, tim Oxford melakukan kloning pada gen tersebut kemudian disisipkan ke dalam adenovirus.

“Nah, sehingga kita sama sekali tidak melibatkan virus dari SARS-CoV-2 dalam proses pengembangan vaksin. Kita hanya melibatkan material genetik yang tersimpan di database, kemudian dengan teknologi DNA sintesis kita mensintesis gen yang mengkode spike protein tersebut,” ungkap Indra.

“Kemudian gen tersebut dimasukkan ke dalam adenovirus. Dan adenovirus ini digunakan untuk memvaksinasi manusia,” ungkap Indra.

Dijelaskan Indra, ketika adenovirus menginfeksi manusia, adenovirus akan menginjeksikan material genetik yang dimilikinya termasuk spike protein yang sudah disisipkan ke adenovirus.

Dari sinilah, tubuh akan memproduksi protein spike gen. Sehingga bisa dikatakan, tubuh kitalah yang sebenarnya memproduksi antigen terhadap SARS-CoV-2.

“Protein itu akan diproses sedemikian rupa oleh tubuh sehingga dihasilkan respons imun, sebagai contoh dihasilkan plasma B yang berfungsi sebagai antibodi yang pada akhirnya melindungi diri dair virus corona,” jelas Indra.

Tujuan dari vaksin yang dibuat Oxford tidak hanya membuat antibodi, tapi juga sistem imun memori.

Jika tubuh memiliki sistem imun memori, yakni sistem imun yang dapat dipanggil kembali ketika suatu saat terjadi infeksi yang sama.

Sejauh ini Oxford sudah melakukan uji klinis untuk ChAdOx1 nCoV-2019. Namun, hasilnya seperti apa belum diketahui.

Related posts