Kisah Jurnalis di Tengah Covid-19, Tuntutan Tinggi tapi Minim Perlindungan

  • Whatsapp
ilustrasi Jurnalis

AKARTA – Jurnalis menjadi garda terdepan dalam memberikan informasi terkait virus corona (Covid-19) yang kini menjadi pandemi global.

Anggota Bagian Ketenagakerjaan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Ratna Ariyanti mengungkapkan, saat ini ilmuwan masih terus meneliti virus corona tersebut. Karena itu, ia mengingatkan masyarakat agar tidak percaya begitu saja dengan informasi yang beredar terkait Covid-19.

Read More

“Jurnalis menjadi frontliner untuk informasi terkait virus corona (Covid-19). Covid-19 ini, scientist masih mempelajarinya terus-menerus. Jangan sampai kita percaya dengan informasi yang simpang siur. Jadi filternya ada di media,” kata Ratna dalam Bincang Hukum “Perlindungan Hukum Pembela HAM dan Environmental Defender”, Senin (18/5/2020).

Selain itu, Ratna mengungkapkan, peran jurnalis sangat penting pada masa pandemi sekarang ini. Sayangnya, menurut survei International Federation of Journalists (IFJ) yang diikuti 1.300 jurnalis dari 77 negara pada 26-28 April 2020, perlindungan terhadap jurnalis masih belum maksimal.

“Secara global peran jurnalis tidak sebanding dengan perlindungan yang diberikan oleh mereka,” kata Ratna.

Pada masa pandemi sekarang ini, lanjut Ratna, banyak freelance (tenaga lepas) jurnalis kehilangan pekerjaan dan banyak media memangkas biaya untuk membayar kontributor. Permasalahan lain yang dihadapi jurnalis pada masa pandemi sekarang ini adalah rasa tidak aman saat meliput lantaran tidak dibekali alat perlindungan diri yang memadai.

“Tidak hanya itu, saat Covid-19 tuntutan hukum juga semakin tinggi. Kita lihat terutama label bahwa mereka ini menyebarkan informasi palsu. Urusan kesehatan mental juga begitu penting,” katanya.

Ratna menyebutkan, pada masa pandemi ini jurnalis mengalami kecemasan. Mereka harus meliput, tapi juga berpikir tentang kelangsungan pekerjaan.

“Untuk diketahui sebelum Covid-19 media juga mengalami disrupsi akibat arus digital. Untuk jurnalis perempuan efeknya (Covid-19-red) juga terlihat. Jurnalis perempuan juga kehilangan pekerjaan, kesulitan untuk mencari alat-alat perlindungan data meliput. Ketidakadilan gender juga masih terlihat,” ucapnya.

Ia melanjutkan, selain itu, perihal gaji juga masih menjadi kekhawatiran jurnalis.

“Gaji yang tidak pasti, kekhawatiran terhadap ancaman fisik karena banyak yang dipukul aparat dan massa,” katanya.

Ratna melanjutkan, sekarang ini media juga bersaing dengan buzzer di dunia maya.

“Jurnalis juga kerap kali tersandung Undang-Undang ITE. Menurut saya tantangan terhadap jurnalis masih sangat tinggi. Terutama karena mikirin job security. Kesehatan mental juga berdampak berpikir terhadap kelangsungan pekerjaan,” tutur Ratna.

Related posts