Pria Ini Nekat Mudik Jalan Kaki Karena Di-PHK Tanpa Pesangon dan THR

  • Whatsapp
Mudik jalan kaki (Foto: Sf.co.ua)

JAKARTA – Pandemi Covid-19 membuat banyak perusahaan berguguran. Terutama perusahaan di bidang transportasi yang banyak dihentikan trayeknya karena pemberlakukan pembatasan sosial guna menghentikan arus penularan Covid-19.

Seorang pria bernama Maulana Arif Budi Satrio yang akrab disapa Rio, 38 tahun, menjadi salah satu korban PHK akibat pandemi Covid-19.

Read More

PHK terhadap Rio dilakukan karena perusahaan tempatnya bekerja, perusahaan bus wisata bangkrut akibat terdampak Covid-19.

“Saya diberitahu bahwa saya di-PHK pada tanggal 8 Mei lalu pukul 11 siang,” kata Rio yang mengaku tak bisa melupakan tanggal tersebut.

Seperti dilansir dari BBC, pemecatannya pun tak disertai dengan gaji terakhir, apalagi THR maupun pesangon. “Saya pasrah saja akhirnya.”

Tanpa penghasilan dan tabungan, menurut Rio sangat sulit bertahan hidup di Jakarta. Lagipula, ayah satu anak ini tak bisa mengharap bantuan sosial dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, lantaran dia tak memiliki KTP DKI Jakarta sebab KTP-nya Solo.

“Saya cuma ada dua pilihan, bertahan tapi sekarat di Jakarta tanpa ada bantuan apa pun atau pulang ke Solo dengan jalan kaki,” ujar Rio.

Akhirnya dia nekat berjalan kaki sekitar 400 km dari Jakarta ke Jawa Tengah. Dia memutuskan berjalan kaki karena gagal mudik dengan kendaraan umum akibat kebijakan larangan mudik.

Dengan berjalan kaki, Rio meninggalkan Cibubur, di pinggiran Jakarta pada 11 Mei lalu dan tiba di perbatasan antara Batang dan Kendal di Gringsing, 14 Mei 2020.

Setiap hari Rio berjalan sekitar 100 kilometer dengan berjalan selama 12-14 jam. “Sepatu saya masukan kresek dan saya berjalan pakai sandal jepit ini karena lebih nyaman,” ujarnya.

Dia pulang pakai apa yang diberikan Allah SWT, yakni kedua kaki sebagai alat tranpsortasi balik ke Solo. Meskipun hanya dengan berjalan kaki, Rio mengaku sangat menikmatinya.

“Saya tetap berpuasa meski harus berpanas-panasan jalan kaki. Saya istirahat di tempat makan atau SPBU pada malam hari,” katanya.

Pada hari pertama, dia berhasil menempuh perjalanan dari Cibubur hingga perbatasan Karawang-Pamanukan, Jawa Barat.

Namun selama perjalanan itu, rumah makan yang biasanya menjadi tempat pemberhentian bus pariwisata, tutup semua.

Selama berjalan kaki menyusuri jalur Pantura, Rio hanya berbekal dua tas, yakni tas gendong yang berisi pakaian dan tas selempang.

Namun Rio akhirnya mengakhiri aksi jalan kaki pada 14 Mei 2020 setelah memasuki perbatasan Batang-Kendal di Gringsing, Jawa Tengah.

Berbekal koneksinya, Peparindo Pusat kemudian berkoordinasi dengan Peparindo Korwil Jawa tengah, dan akhirnya Rio dijemput menuju Semarang.

Related posts