Banyaknya Jurnalis Diserang Polisi Ketika Meliput Demo George Floyd

  • Whatsapp
Jurnalis

Massa pengunjuk rasa memprotes tewasnya George Floyd jumlahnya kian bertambah. Demonstrasi kini memasuki hari ke-8 setelah Floyd tewas pada Senin (25/5) pekan lalu setelah lehernya ditindih oleh polisi David bernama Derek Chauvin selama 9 menit. 

Di balik berjalannya protes, terdapat barisan jurnalis yang meliput dan mendokumentasikan peristiwa bersejarah tersebut. Namun bukannya menghargai kerja media yang sebenarnya dilindungi aturan tentang kebebasan pers, polisi malah menggangu, menyerang, bahkan menangkap jurnalis saat menyiarkan laporan langsung.

Read More

Pada Jumat (29/5) kemarin, seorang reporter CNN bernama Omar Jimenez yang ditangkap oleh polisi di Minneapolis ditengah siaran langsung pertama kali menarik perhatian dunia, memperlihatkan bagaimana pihak penegak hukum kota tersebut memperlakukan para wartawan yang tengah meliput kerusuhan.

Jumlah jurnalis dan kru media yang terluka ketika meliput kerusuhan di AS bertambah banyak pada akhir pekan kemarin, US Freedom Tracker, sebuah proyek nirlaba, mengatakan tengah menyelidiki lebih dari 100 “pelanggaran kebebasan pers” pada protes dalam tiga hari terakhir. Sebanyak 76 kasus di antaranya melibatkan serangan fisik yang 80% dilakukan oleh polisi. 36 jurnalis terluka ditembak peluru karet, dan 19 lainnya ditangkap oleh polisi.

Sejumlah awak media melaporkan bahwa mereka juga ikut diserang oleh polisi ketika sedang berusaha membubarkan massa yang berunjuk rasa. Tidak sedikit juga yang menjadi korban serangan dari pengunjuk rasa, seperti jurnalis foto dari KDKA TV bernama Ian Smith yang mengaku diserang oleh para pengujuk rasa di pusat kota, di Pittsburgh. 

“Mereka menginjak dan menendang saya. Saya memar dan berdarah, tapi saya masih tetap hidup. Kamera saya rusak. Sekelompok pemrotes lainnya menarik saya keluar dan menyelamatkan hidup saya. Terima kasih!,” ujarnya seperti dilansir dari CNN.

Seorang reporter dan juru kamera dari DW ditembak peluru karet oleh polisi Minneapolis ketika sedang berada dalam siaran langsung. Dalam cuplikan video di bawah, terlihat bahwa reporter tersebut mengenakan rompi bertuliskan “PRESS” dan berada jauh dari barisan barikade polisi anti huru-hara.

Hal yang sama juga terjadi terhadap seorang reporter dan juru kamera dari Australia. Ketika sedang melaporkan langsung dari depan Gedung Putih, mereka dipukul dan tertembak peluru karet. Para polisi anti huru-hara tidak membedakan antara para demonstran dan jurnalis yang tengah meliput di lapangan

Menanggapi hal ini, Presiden AS Donald Trump tidak bersimpati dan pada Minggu kemarin justru menyalahkan media untuk kerusuhan yang terjadi di penjuru negeri. Dua hari sebelumnya, Trump dibawa ke bunker untuk berlindung ketika ratusan pemrotes berkumpul di luar Gedung Putih.

Related posts