Sampai Kapan Warganet Asal Nyinyir? Cyberbullying Buat Pegulat Jepang Berdarah RI Bunuh Diri

  • Whatsapp
Cyberbullying

Kematian pegulat Jepang yang berdarah Indonesia, Hana Kimura, membuat media sosial ramai membahas bahaya cyberbullying. Kimura, pegulat profesional terlibat serial Netflix “Terrace House” meninggal akibat bunuh diri pada 23 Mei lalu. 

Perempuan berusia 22 tahun ini mengakhiri hidupnya diduga kuat akibat komentar kebencian dari pengguna media sosial yang setiap harinya membanjiri akun Kimura dalam beberapa bulan terakhir. Kimura ditemukan tewas di apartemennya dan meninggalkan pesan meminta maaf kepada ibunya, “Terima kasih telah melahirkan saya.” 

Read More

Unggahan terakhir di akun Instagram-nya adalah foto dengan kucing kesayangannya, dengan tulisan “Aku mencintaimu. Jalani hidup yang bahagia dan panjang. Maaf.” 

Menjelan akhir hidupnya, Kimura dilaporkan mencuitkan betapa ia terluka oleh pesan-pesan jahat itu. Bahwa ia tidak lagi ingin hidup. 

Komentar pedas yang diterima Kimura mencapai ratusan setiap harinya usai insiden dengan seorang pria anggota serial Terrace House. Pria itu secara tidak sengaja merusak salah satu kostum gulat yang sangat berharga bagi Kimura ketika dia mencucinya, Kimura marah dan bereaksi dengan menamparnya.

Semenjak itu ia menghadapi serangan bertubi-tubi, banyak poster di Twitter dan platform media sosial menuntutnya agar segera meninggalkan acara serial Netflix itu. Tidak sedikit yang menyebut Kimura “bodoh” bahkan memintanya untuk bunuh diri.

Setelah berita kematiannya beredar, banyak artis dari industri yang sama angkat suara dan meminta agar orang-orang menghentikan cyberbullying

Bagaimana kamu bisa menilai orang yang belum pernah kamu temui dan hanya terlihat di layar? Apakah mereka melakukan sesuatu secara langsung kepadmu yang tidak kamu sukai? Apa yang kamu tahu? Apakah kamu sempurna? Kamu tidak tahu pikiran setiap individu saat mereka menjalani hidup mereka. Kamu tidak tahu kecemasan mereka. Kamu tidak tahu apakah mereka memiliki masa lalu!” tulis Ryo Tawatari, pemain basket yang meninggalkan Terrace House pada awal tahun ini.

“Ketika saya meninggalkan Terrace House, saya juga terluka oleh fitnah. Banyak orang menulis ‘mati’ atau ‘pergi’ atau ‘Jangan ada di TV jika kamu tidak bisa sanggup menghadapinya!’ Tetapi orang yang bekerja di bawah lampu sorot juga manusia. Kami juga punya perasaan,” tulis Emika Mizukoshi di Instagram, anggota di Terrace House yang juga pernah dicaci maki di media sosial.

Pada Selasa (26/5), Partai Demokratik Liberal yang berkuasa di Jepang mulai mendiskusikan aturan baru untuk menghentikan cyberbullying. Mereka telah membentuk gugus tugas untuk menangani perisakan di medsos ini.

Pertemuan pertama pembahasan aturan itu, membicarakan undang-undang yang akan mengatur provider internet memberikan informasi soal identitas pengguna di balik posting oleh akun anomin. Gugus tugas tersebut juga tengah mempertimbangkan untuk membuat hotline yang bisa dihubungi oleh korban cyberbullying

Related posts