Jeritan Hati Anak Kos, Tarif Listrik Melonjak karena WFH

  • Whatsapp
ilustrasi padam listrik

Penerapan sistem Work from home (WFH) tak hanya berdampak pada borosnya penggunaan kuota internet. Namun penggunaan listrik juga ikut melonjak.

Melonjaknya tarif listrik tentu menjadi beban tersendiri bagi mereka yang berpenghasilan minim, seperti anak kos yang gajinya pas-pasan.

Hal ini dirasakan oleh Ira, seorang karyawati perusahaan swasta yang sudah menjalani WFH di kosnya dalam kurun waktu 3 bulan.

Ira mengaku, tarif listrik yang harus dibayarnya melonjak dua kali lipat. “Biasanya saya beli token listrik Rp100 ribu buat sebulan. Sekarang jadi Rp200 hingga Rp250 ribu per bulan,” ungkapnya saat dihubungi pada Selasa (9/6/2020).

Sayangnya, kos yang ditempati Ira belum termasuk biaya listrik. Akibatnya dia harus mengisi token listrik sendiri di luar biaya kosnya.

“Sayangnya disini belum termasuk biaya listrik. Tapi kos ini yang terdekat dari tempat kerja,” sambungnya.

Ira mengaku, dia sudah berusaha sehemat mungkin untuk tidak menyalakan AC, atau menggunakan perabotan listrik yang membutuhkan daya besar. Namun upayanya belum membuahkan hasil signifikan.

Related posts