Usai Kasus Floyd, Kini Heboh Polisi AS Tembak Mati Rayshad Brooks

  • Whatsapp
Source: flickr

Ketika Amerika Serikat belum dapat melepaskan tewasnya George Floyd, kini seorang warga kulit hitam bernama Rayshad Brooks berusia 27 tahun juga telah menjadi korban penembakan polisi. Ia tewas di parkiran restoran cepat saji Wendy’s, Atlanta, setelah dikabarkan mencoba kabur ketika hendak dites kadar alkohol dalam darahnya.

Peristiwa itu terjadi pada Jumat (12/6) malam hari, seorang karyawan Wendy’s melapor pada polisi karena Brooks tampak tertidur dalam mobilnya di jalur drive-thru, sehingga menghalangi pelanggan lain.

Ketika dihampiri oleh dua orang polisi, Brooks menjawab semua pertanyaan mereka selama lebih dari 20 menit dengan tenang. Ia juga mempersilahkan polisi tersebut mengecek tubuhnya untuk memastikan dirinya tidak membawa senjata apapun.

Brooks mengatakan dirinya baru saja pulang dari pesta ulang tahun anak putrinya, di mana ia mengkonsumsi beberapa botol minuman beralkohol. Ia juga menyetujui ketika polisi memintanya untuk menjalani tes kadar alkohol.

Aku tahu kamu hanya melakukan pekerjaanmu. Saya baru saja minum beberapa botol (alkohol), itu saja,” jawab Brooks menyanggupi permintaan polisi untuk menjalani tes.

Kepolisian Atlanta menyebutkan kadar alkohol Brooks menunjukkan 0.108, melebihi batas 0.08 yang diperbolehkan ketika mengemudi di negara bagian Georgia. Ketika Brooks hendak ditahan oleh kedua polisi atas tuduhan menyetir dibawah pengaruh alkohol, ia mencoba untuk melarikan diri.

“Berhenti, jangan bergerak!” teriak seorang petugas. Salah satu polisi yang berhasil mengejar Brooks menjatuhkannya dan terlibat dalam perkelahian.

Salah satu kamera dari dasbor mobil polisi merekam perkelahian itu. Saat Brooks mencoba untuk berdiri, seorang polisi mengeluarkan senjata taser listriknya mengancam akan menggunakannya. 

Brooks meraih tasernya dan mulai berlari kembali. Tidak lama kemudian, tiga bunyi tembakan terdengar. 

Seorang polisi mengatakan aksinya itu untuk melindungi dirinya karena Brooks menembakan taser listrik padanya. Namun kamera dari mobil dan badan polisi tidak berhasil menangkap kejadian itu.

Akibat aksinya, polisi bernama Garrett Rolfe yang menembak Brooks telah dipecat, sementara polisi lain bernama Devin Brosnan sementara dinon-aktifkan selama investigasi berlangsung. 

Wali Kota Atlanta, Keisha Lance Bottoms, mengatakan bahwa ia tidak percaya penembakan itu harus terjadi. Kepala Polisi Atlanta, Erika Shields, telah mengundurkan diri dari jabatannya akibat kejadian yang melibatkan dua anak buahnya itu.

Di sejumlah negara bagian, seperti di Georgia, senjata listrik taser tidak disebut berbahaya oleh polisi. Pengacara keluarga Rayshad Brooks pun berargumen serupa, jika tidak taser tidak berbahaya lantas tidak seharusnya polisi melepas tembakan api.

“Kamu tidak bisa mendapatkan keduanya. Kamu tidak bisa mengatakan dia lari dengan senjata yang berbahaya dan bisa membunuh seseorang, jika kalian sendiri menyebutnya (taser) tidak berbahaya,” jelas sang pengacara.

Kini sejumlah pejabat publik tengah mempertanyakan jika reaksi polisi Rolfe adalah berlebihan. Tewasnya Brooks memicu aksi protes yang melibatkan ratusan orang membakar restoran Wendy’s tersebut dan memblokir jalanan sekitarnya pada Sabtu malam (13/6). Polisi menangkap setidaknya 36 perusuh dan menjanjikan imbalan sebesar US$ 10 ribu atau setara sekitar Rp 142 juta bagi orang yang bisa menginformasikan lokasi individu yang membakar restoran cepat saji itu.

Related posts