Harga nikel turun, Pefindo revisi outlook Aneka Tambang jadi negatif

  • Whatsapp
nikel turun

JAKARTA. Harga nikel yang menurun sejak pandemi virus corona membuat Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) merevisi outlook PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). Pefindo menurunkan outlook emiten yang kerap disebut Antam ini menjadi negatif dari sebelumnya stabil. 

“Prospek peringkat perusahaan direvisi untuk mengantisipasi EBITDA yang lebih rendah karena harga jual nikel yang lebih rendah dari perkiraan,” jelas Niken Indriasih dan Aishantya Analis Pefindo dalam rilis pada Jumat (19/6). Tapi Pefindo menegaskan peringkat PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan Obligasi Berkelanjutan I / 2011 di idA. 

Pefindo juga mengantisipasi terjadi penurunan volume penjualan emas. Ini karena pandemi Covid 19 yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sehingga menyebabkan Pefindo merevisi proyeksi volume penjualan dan harga komoditas menjadi lebih rendah dari proyeksi terakhir. 

Sejak Covid 19 pertama kali diidentifikasi pada akhir Desember 2019, harga nikel global telah turun 12% dari US$ 13.723 per ton menjadi US$ 12.128 per ton pada 27 Mei 2020. Lockdown di beberapa negara juga mempengaruhi penjualan ekspor emas Antam yang diperkirakan akan menurun. 

Tapi Pefindo menyebut, manajemen Aneka Tambang akan fokus pada peningkatan penjualan emas lokal, yang menawarkan margin yang lebih tinggi daripada penjualan ekspor. “Permintaan emas domestik eceran mungkin agak melemah karena harga emas yang tinggi di pasar di tengah melemahnya daya beli,” kata Niken dan Aishantya. 

Meskipun mengambil beberapa inisiatif untuk mempertahankan biaya rendah dan mengurangi EBITDA yang lebih rendah melalui efisiensi biaya, Pefindo menilai pandemi yang berkepanjangan dapat mempengaruhi profil kreditnya dalam jangka waktu dekat hingga menengah.

Peringkat Aneka Tambang (ANTM) di idA menurut Pefindo, mencerminkan cadangan dan sumber daya ANTM yang cukup besar. ANTM memiliki portofolio pertambangan yang terdiversifikasi dari nikel ke emas, perak, bauksit, batubara, dan layanan pemrosesan logam mulia lainnya. Peringkat tersebut dibatasi leverage keuangan yang tinggi dan paparan terhadap harga komoditas yang berfluktuasi.

Pada akhir 2019, cadangan bijih nikel Aneka Tambang (ANTM) 354 juta metrik ton basah (wmt), sementara sumber dayanya 1,362 juta wmt. ANTM juga memiliki cadangan dan sumber daya bijih bauksit yang sangat besar yakni masing-masing 151 juta wmt dan 598 juta wmt. Dengan kapasitas produksi saat ini, cadangan dan sumber daya ini harus mempertahankan segmen nikel dan alumina masing-masing selama lebih dari 40 dan 100 tahun. 

ANTM juga memiliki cadangan emas dan sumber daya masing-masing 8 ton dan 37 ton. Untuk meningkatkan cadangan emasnya, ANTM membentuk aliansi strategis dengan Newcrest Mining Ltd untuk melakukan eksplorasi deposit emas dan tembaga di daerah-daerah prospektif di Indonesia.

ANTM terus memperkuat posisi di segmen feronikel (FeNi) dengan memperluas kapasitasnya ke Halmahera Timur. ANTM juga fokus pada peningkatan penjualan emas ritel dengan membuka butik, melalui pengecer emas dan mengembangkan produk perhiasan. ANTM juga menembus pasar ekspor baru dengan menjual ke bank bullion. 

Dengan konsolidasi PT Indonesia Chemical Alumina (ICA), ANTM dapat menangkap permintaan aluminium dalam jangka panjang, dimana produk-produk pemrosesan digunakan dalam pembuatan komponen elektronik, seperti refraktori, abrasive, sirkuit terpadu, dan pemurni air. 

ANTM memiliki operasi yang terintegrasi secara vertikal dari penambangan hingga pabrik pengolahan. Tambang nikelnya terintegrasi dengan pabrik feronikel, dengan kapasitas terpasang tahunan sebesar 27.000 ton feronikel setelah selesainya ekspansi pabrik Pomalaa. 

Cadangan bijih bauksitnya yang besar juga terintegrasi dengan pabrik chemical grade alumina (CGA) di Tayan, Kalimantan Barat, yang dimiliki oleh ICA, yang dirancang untuk menghasilkan 300.000 ton CGA per tahun. ICA telah memulai kembali produksi dan membuat kemajuan yang berarti baik secara operasional maupun finansial. 

Peringkat ANTM dapat diturunkan jika pandemi berlanjut hingga 2021. Pandemi berkepanjangan bisa menunda pemulihan ekonomi global dan berdampak negatif pada harga komoditas dan permintaan global. Sehingga memengaruhi operasi bisnis dan profil keuangan ANTM. 

Peringkat tersebut juga dapat berada di bawah tekanan jika memiliki utang yang lebih tinggi dan gagal menyelesaikan proyek ekspansi sesuai jadwal. “Kami dapat merevisi prospek menjadi stabil jika generasi EBITDA kuat di tengah kondisi saat ini yang tidak menguntungkan,” jelas analis Pefindo dalam rilis. 

Pefindo akan terus memantau dampak pandemi pada kinerja dan profil keuangannya dalam jangka waktu dekat hingga menengah.

Related posts