Ikatan Guru Indonesia Sebut Kinerja Menteri Nadiem di Luar Harapan Guru

  • Whatsapp
Ikatan Guru Indonesia

 Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia (IGI) Muhammad Ramli Rahim menyebut kinerja Mendikbud Nadiem Makarim jauh dari harapan para guru. Sebelumnya para guru menaruh banyak harapan dengan hadirnya seorang menteri dari kelangan milenial dan berhasil di bidang teknologi.

“Jujur saja, saat Nadiem ditunjuk menjadi menteri, IGI menaruh banyak harapan. Apalagi ia sosok muda yang diharapkan bertindak progresif,” ungkap Ramli Rahim dalam keterangan persnya, Jumat (10/7).

Ramli Rahim menyebut, semula para guru meyakini bisa berbuat banyak untuk pendidikan dan guru. Apalagi Nadiem adalah anak muda yang sukses. Angkatan milenial dan sangat memahami teknologi. “Tadinya kita berharap profil menteri ini dapat menciptakan hal yang berbeda,” imbuh Ramli. Pernyataan serupa sempat juga dikemukakan Ramli pada Webinar yang berlangsung baru-baru ini.

Terkait program Merdeka Belajar yang diusung Nadiem, menurut Ramli, sebetulnya itu adalah program lama. Sejak didengungkan Nadiem, program itu baru sebatas gimik dan slogan. Sebab berdasar data IGI, lebih dari 60 persen guru tidak bisa menggunakan teknologi.

Hal itu berimplikasi ketika sistem belajar pada masa pandemi covid-19. Sistem belajar yang ditawarkan Kemendikbud selama masa pandemi Covid-19 hanya membuat para guru kebingungan.

“Di masa pandemi bukan merdeka belajar yang terjadi, tapi sistem belajar terserah. Karena tidak ada gerakan serius dari kementerian. Kami saja dari IGI melakukan gerakan pelatihan pembelajaran jarak jauh. Lalu, kami meminta acuan dasar. Karena tanpa acuan dasar ini kemudian murid dan guru jadi stres,” sesalnya.

Pada kesempatan yang sama, Ramli mengungkap hasil survei IGI. Survei tersebut dengan sampel para guru. Para guru diminta untuk menilai kinerja menteri selama sembilan bulan. “Survei guru menilai bahwa menteri ini biasa saja, di luar ekspektasi kami,” jelas Ramli.

Hadirnya survei itu karena guru melalui IGI kinerja Nadiem tidak menjanjikan. Program guru penggerak yang target tidak spektakuler. Dari sejumlah 4,5 juta guru yang ditarget, hanya 10 ribu guru sebagai penggerak. Padahal, pada 2024 nanti banyak guru senior yang memasuki masa pensiun.

“Belum lagi janji kepada guru penggerak yang akan dijadikan sebagai kepala sekolah. Padahal hal ini bukanlah wewenang kementerian. Kalau pun bisa, bagaimana kementerian mengontrolnya,” kata Ramli.

Related posts