Valuasi Turun? Traveloka Dapat Pendanaan Baru

  • Whatsapp
Traveloka

Traveloka dilaporkan menerima pendanaan baru. Perusahaan asal Indonesia ini tengah dalam fase akhir negosiasi dengan sejumlah investor, termasuk Siam Commercial Bank dan FWD Group, serta investor sebelumnya, GIC dan East Ventures.

Kesepakatan ini dilaporkan menjadi subyek untuk mengubah dan mengamankan pendanaan sebesar USD250 juta (Rp3,6 triliun). Sedangkan DealStreetAsia menyebutkan angka lebih besar yaitu sekitar USD100 juta (Rp1,4 triliun).

Bersamaan dengan proses ini, valuasi Traveloka diprediksi mengalami penurunan sebesar USD2,75 miliar (Rp40 triliun). Penurunan ini merupakan dampak dari pandemik Covid-19 terhadap bisnis startup memulai karirnya di bidang perjalanan ini.

Tahun lalu, sejumlah sumber melaporkan bahwa valuasi Traveloka mencapai USD4,5 miliar (Rp65 triliun). Namun, perusahaan ini menargetkan untuk memperoleh pendanaan baru bernilai USD500 juta (Rp7,2 triliun).

Seluruh bisnis di ranah Online Travel Agent (OTA) mengalami masa sulit akibat pandemi virus korona. Selain itu, salah satu investor Traveloka yaitu Expedia, pada Q1 2020 mengalami penurunan dalam jumlah total pemesanan hingga 39 persen.

Perusahaan terkait Traveloka dalam sektor hotel terjangkau, Airy, menghentikan operasionalnya akibat tidak mampu mempertahankan operasional bisnis. Traveloka juga dilaporkan telah memangkas jumlah pegawai, meski enggan mengungkap jumlah pasti pegawai yang terdampak.

Selain Traveloka, sejumlah startup unicorn asal Indonesia juga tengah berupaya memperoleh pendanaan baru. Sebagai informasi, Gojek tengah dalam penyelesaian terkait pendanaan seri F, sedangkan Tokopedia dilaporkan tengah dalam proses diskusi terkait pendanaan seri berikutnya dengan Temasek dan Google.

Sebagai pengingat, Traveloka didirikan pada tahun 2012 oleh Ferry Unardi, Albert Zhang, dan Derianto Kusuma. Derianto telah meninggalkan Traveloka sejak bulan November 2018 dan melepaskan jabatan CTO yang sebelumnya diembannya.

Layanan Traveloka saat ini telah tersedia di sejumlah negara di Asia Tenggara dan Australia. Sementara itu, pemerintah Indonesia mendorong lahirnya startup baru Tanah Air di era new normal kali ini. Sebab selama periode pandemi, jumlah pengguna internet meningkat hingga mencapai 171,2 juta atau 64,8 persen dari total penduduk.

Pemerintah juga menargetkan Indonesia memiliki tiga unicorn baru hingga akhir tahun 2020 mendatang, seperti yang disampaikan oleh Presiden Jokowi. Sebagai pengingat, unicorn merupakan sebutan bagi startup bervaluasi lebih dari USD1 miliar atau sekitar Rp14 triliun.

Related posts