6 Fakta Norovirus, Menular Melalui Makanan

  • Whatsapp
Norovirus

Belum usai virus SAR-CoV-2 penyebab pandemi Covid-19 yang mewabah pertama kali di China, kali ini negara tersebut diserang wabah norovirus.

Seperti diberitakan Kompas.com, Senin (12/10/2020), lebih darii 70 orang mahasiswa di sebuah universitas di Taiyuan, Provinsi Shanxi, China utara mengalami diare dan muntah-muntah.

Berdasarkan hasil analisis sampel pada 28 kasus mahasiswa itu, Departemen Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Taiyuan menemukan 11 kasus positif norovirus.

Dikutip dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), norovirus adalah virus yang sangat menular. Orang yang terinfeksi virus ini akan mengalami muntah dan diare, serta menyerang segala usia.

Orang dengan penyakit norovirus dapat melepas miliaran partikel virus, namun hanya beberapa partikel yang dapat membuat orang lain sakit.

Menurut otoritas Kesehatan Tiongkok, norovirus ini menyebabkan kejadian luar biasa (KLB).

Berikut 6 fakta yang harus Anda ketahui terkait penyakit yang disebabkan oleh norovirus ini:

1. Pernah terjadi di Indonesia

Menanggapi kasus wabah norovirus ini, guru besar pada Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-RS Cipto Mangunkusumo, Prof Dr dr Ari Fahrial Syam SpPD(K) MMB FINASIM FACP angkat bicara.

Ari mengatakan, sebenarnya norovirus ini bukanlah virus yang baru dan bisa ditemukan di banyak negara.

Norovirus menjadi salah satu penyebab utama terjadinya infeksi usus akut (gastroenteritis) di seluruh dunia.

Virus ini juga ada di Indonesia, seperti yang dilaporkan oleh peneliti Indonesia di jurnal internasional, salah satunya yang baru saja dipublikasikan di Jurnal of Medical Virology bulan Mei 2020.

Penelitian itu dilaporkan oleh Dr Juniastuti, dkk dari Institure of Tropical Disease Universitas Airlangga.

Dalam laporan jurnal terebut menunjukkan, bahwa dari 91 sampel feses yang diperiksa, ternyata 14 sampel atau 15,4 persen mengandung norovirus.

Sampel penelitian yang dilakukan di awal tahun 2019 ini  mengambil dari beberapa rumah sakit di Kota Jambi.

“Kasus yang sama juga pernah dilaporkan dari beberapa kota di Indonesia,” kata Ari yang juga dokter spesialis penyakit dalam konsultan Gastroenterologi Hepatologi ini.

2. Penularan melaui makanan (food borne)

Ari menjelaskan, penularan Norovirus ini berbeda dengan virus SARS-CoV-2. 

Norovirus ditularkan melalui makanan atau istilah yang digunakan adalah food borne.

“Kejadian luar biasa bisa terjadi, jika adanya makanan yang tercemar oleh virus ini,” jelasnya.

CDC Tingkok juga menginformasikan KLB yang sudah terjadi lebih dari 30 KLB sejak September 2020 ini melibatkan 1.500 kasus, terutama dilaporkan ditularkan melalui kantin karena adanya makanan yang tercemar.

Biasanya, kata dia, penularan bisa terjadi bermula dari restoran yang makanannya tercemar oleh Norovirus dan akhirnya terjadi KLB, akibat banyak pelanggan restoran tersebut yang terinfeksi.

3. Waspadai norovirus sebagai penyebab keracunan makanan

Kendati bukan virus baru dan bisa ditemui di banyak negara, Ari menegaskan tetap perlu mewaspadai kemungkinan kasus keracunan makanan akibat kontaminasi norovirus.

“Sehingga, jika terjadi KLB, sisa makanan yang dicurigai atau muntahan dan feses pasien yang menerima keracunan makanan tersebut harus dicek apakah norovirus sebagai penyebabnya,” tegasnya.

4. Gejala klinis 

Secara umum gejala yang timbul ketika seseorang mengalami keracunan makanan antara lain demam, nyeri perut, diare, mual dan muntah. 

Gejala klinis ini juga muncul pada KLB Norovirus yang terjadi di Tiongkok, tepatnya di  Provinsi Shanxi. 

Gejala klinis yang muncul akibat norovirus bisa terjadi dalam 24 jam setelah mengonsumsi makanan yang tercemar. 

“Hal yang memang perlu diperhatikan adalah ketika jumlah KLB yang dilaporkan terus meningkat,” tuturnya.

5. Penanganan

Sampai saat ini, kata Ari, prinsip penanganan infeksi Norovirus adalah dengan memberikan obat-obatan untuk menghilangkan gejala sakit dan mencegah terjadinya dehidrasi, akibat muntah dan diare.

Pasien yang terinfeksi Norovirus, juga harus mengganti makanan dengan yang lebih lunak, seperti bubur dan menghindari makan pedas dan berlemak.

6. Upaya pencegahan

Ari menyebutkan ada cara yang bisa kita lakukan untuk mencegah terjadinya KLB akibat virus norovirus, yaitu memastikan kualitas makanan terjaga baik yang disediakan oleh restoran, kantin atau di rumah tangga.

Selain itu, masyarakat juga diingatkan untuk harus selalu rajin mencuci tangan pakai sabun.

Related posts