Penasaran Kenapa Tidak Ada Bidan Laki-laki, Padahal Banyak Dokter Kandungan Adalah Laki-laki?

  • Whatsapp
Via Unsplash

Mengapa tidak ada bidan laki-laki, padahal banyak dokter kandungan adalah laki-laki?

Dijawab di Quora Indonesia oleh Hanna Namirah:

Read More

Ada, kok.
Tapi, ada tapinya.
Mari kita lihat pengertian bidan di Indonesia:
Bidan adalah Bidadari idaman. Loh?
*Skip

Menurut Ikatan Bidan Indonesia (IBI), “Bidan adalah seorang perempuan yang lulus dari pendidikan Bidan yang diakui pemerintah dan organisasi profesi di wilayah Negara Republik Indonesia serta memiliki kompetensi dan kualifikasi untuk diregister, sertifikasi dan atau secara sah mendapat lisensi untuk menjalankan praktik kebidanan.” Wewenang tersebut berdasarkan peraturan Menkes RI.[1]

    “…lulus dari pendidikan bidan… atau secara sah mendapat lisensi untuk menjalankan praktik kebidanan.”

Simpelnya begini:

Kalau tidak lulus, dia tidak qualified jadi bidan. Kalau dia nggak punya lisensi, dia juga tidak qualified. Iya, kan? Begitupun jenis kelamin. Selain perempuan, tidak bisa dikategorikan menjadi bidan. Peraturan pemerintahnya begitu. Itu di Indonesia.

Nah, kita lihat peraturan internasional, bidan adalah:

Menurut WHO, “Bidan adalah seseorangyang telah diakui secara reguler dalam program pendidikan kebidanan sebagaimana yang diakui yuridis, dimana ia ditempatkan dan telah menyelesaikan pendidikan kebidanan dan telah mendapatkan kualifikasi serta terdaftar disahkan dan mendapatkan ijin melaksanakan praktik kebidanan.“[2]

Ya. Menurut definisi internasional, bidan adalah seseorang, yang berarti seseorang itu bisa laki-laki atau perempuan. Makanya, di luar negeri ada bidan laki-laki.

Kenapa standar bidan di Indonesia harus perempuan?

Simpel, jawabannya adalah: budaya.

For your information, bidan adalah salah satu profesi tertua di Indonesia. Karena dari jaman purba juga proses melahirkan sudah ada, kan? Kenal Mak Paraji? Dukun beranak? Kalau belum kenal, mari saya perkenalkan. Ini dia…

Sebelum ada bidan di Indonesia, mereka yang sudah terlebih dahulu mengerjakan pekerjaan bidan. Mulai dari merawat kehamilan ibu, menolong proses persalinannya, sampai merawat bayi dan ibunya pascamelahirkan. Bedanya, mereka nggak pakai ilmu pengetahuan. Hanya memakai nalurinya sebagai perempuan. Ya, dia kebanyakan perempuan. Ada sih laki-laki, tapi sedikit banget, nggak tahu deh. Saya cuma nemu satu orang waktu itu. Sudah sepuh juga.

Teman-teman bisa tanyakan pada nenek atau buyutnya, siapa yang menolong lahiran saat zaman mereka?

Ada yang bilang paraji sekarang itu “dilarang dan dirindu”. Hahaha. Iya, soalnya mereka sudah nggak boleh lagi menolong persalinan. Kenapa nggak boleh? Ya bayangin aja. Namanya juga pake “insting”. Mengeluarkan bayi nggak pake sarung tangan, terus kalau bayinya keluarnya lama bakal ditarik-tarik atau perut ibunya didorong. Kan sakit. Motong tali pusat pake gunting biasa, bukan gunting khusus. Setelah dipake, guntingnya dipake apa? Huhuhu. Dibersihinnya pake apa? Disterilin gak? Oh, satu lagi. Kalau permukaan vaginanya robek, nggak dijahit, lho. Dibiarin aja. Bingung juga kali ya ngejaitnya pake apa. Bidan sering liat bentuk vagina ibu yang nggak beraturan karena pas robek gak langsung dijahit 🙁 itu “bekas”nya dukun beranak.

Karena masih susah menghilangkan budaya tersebut, dan sebenernya tidak benar-benar bisa menghilangkan keberadaan dukun beranak, hanya bisa menghilangkan perannya, akhirnya bidan dan paraji kolaborasi. Udah ada programnya. Paraji tersebut diberi pelatihan. Tujuannya memberi pengertian dan pengetahuan bahwa persalinan harus ditolong oleh tenaga kesehatan profesional. Paraji hanya boleh intervensi untuk mendampingi selama persalinan. Nggak boleh lebih dari itu. Di beberapa daerah, masih banyak bidan yang menjadikan paraji sebagai asistennya daripada bidan muda yang berkompeten dengan alasan peran paraji masih begitu kuat.

Walaupun begitu, sekarang ini ada saja ibu-ibu yang masih pakai jasanya. Kadang-kadang eksistensi bidan masih kalah sama paraji, terutama di daerah pedalaman. Kelebihannya memang ada pada sisi spiritualnya. Ibu dan janinnya sering didoakan. Selain itu, paraji lebih mudah dipanggil ke rumah dan tarifnya lebih murah daripada bidan. Jadinya bidan dan dukun beranak malah saingan.

Nah, dari budaya turun-temurun itu yang sudah bertahun-tahun lamanya, juga mengingat masyarakat Indonesia masih menganut budaya ketimuran yang kental, jadilah terbit peraturan tersebut. Diharapkan dengan memberikan pelayanan kebidanan sesama perempuan, bisa menumbuhkan perasaan ‘dekat’ dan nyaman kepada pasien. Hal itu menumbuhkan prinsip di dalam profesi ini bahwa bidan adalah partner perempuan.

Kenapa banyak dokter kandungan laki-laki? Gampangnya, memang tidak ada peraturan khusus yang mengkhususkan jenis kelamin untuk dokter. Begitupun dokter spesialisnya. Bener, kan?

Catatan Kaki

[1] http://repository.usu.ac.id

http://repository.usu.ac.id/

[2] http://bppsdmk.kemkes.go.id

http://bppsdmk.kemkes.go.id/

Related posts