2 Hal Ini yang Mungkin Jadi Penyebab Perselingkuhan

  • Whatsapp
ilustrasi perselingkuhan

Tak satupun orang yang ingin dikhianati namun anehnya tak sedikit perselingkuhan yang terjadi.
Alamak!

Berkaca dari keinginan yang muluk-muluk tentang komitmen, jelas setiap orang mengidamkan hubungan yang sehat (baca: dan diharapkan pula bisa berumur “panjang”) dengan pasangan.

Read More

Hanya saja, jalan mulus ke arah sana tak semudah membalikkan telapak tangan— bisa jadi selalu ada banyak kemungkinan hubungan itu menuju jurang perpisahan.

Para pelakunya tak mengenal jenis kelamin. Pun para korbannya.
Pada intinya, baik sebagai pelaku atau sebagai korban keduanya berpotensi mengalami perselingkuhan.

Jadi, di antara laki-laki ataupun puan tak perlu diributkan dulu siapa yang paling dominan untuk patut dipersalahkan.

Perselingkuhan tentu saja akan menimbulkan dampak yang akan memberatkan di masa depan (baca: baik bagi pelaku atau korban. Akibatnya tentu saja bisa menimbulkan trauma emosional dari sisi psikologis jika ketahuan)—dan sudah barang tentu tidak bisa dianggap remeh apalagi sembarangan.

Mengapa saya katakan demikian?
Karena pada akhirnya trust issue akan menjadi tuntutan, selalu dipertanyakan, dan tentu saja kelak di masa mendatang jadi pusat perhatian.

Trust issue adalah sesuatu yang—sangat—serius. Karena ini adalah “inti” yang sebenarnya dalam sebuah hubungan (baca: dan diusahakan “tidak hadir” jika seseorang menginginkan hubungan yang langgeng dalam jangka panjang).
Untuk ciri-ciri seseorang yang sedang terlibat perselingkuhan sendiri, saya tidak akan membahasnya lebih lanjut. Karena tujuan saya jelas bukan itu.

Saya sendiri punya cerita menyoal perselingkuhan!
Eits, tapi tunggu dulu, saya rasanya perlu mewanti-wanti bahwa saya sebelumnya tidak punya riwayat sebagai penderita ataupun yang memberikan derita untuk permasalahan yang satu ini—dengan kata lain, saya tidak punya pengalaman real apapun tentangnya.

Secara teknisnya sih begitu—setidaknya sebelum saya menemukan alasan yang pas untuk melakukannya.

Perselingkuhan bisa menimbulkan trust issue berkepanjangan dalam diri seseorang.
(Sumber: Unsplash/Foto oleh Milan Popovic)

Kaget?

Ya, kau tidak salah baca, kawan.

Dengan lantang saya katakan, memang saya pernah sekali waktu—dengan sengaja—melakukannya (baca: katakanlah saya melakukannya untuk semacam personal experiment—yang diawali dengan satu masalah yang jadi pemicu. Hanya saja karena alasan norma kesopanan, saya merasa tak perlu saya memberitahukan secara detail dalam tulisan ini apa pemicunya itu) untuk memunculkan reaksi atas pasangan saya—dan itu tentu saja saya lakukan dengan sadar; tidak semata-mata dengan sembunyi-sembunyi.

Partner yang saya jadikan “tandom” adalah teman saya (baca: yang juga sangat dikenal baik oleh pasangan saya; mereka adalah sahabat baik dan mereka bersahabat jauh sebelum saya mengenal pasangan saya—meskipun boleh jadi hingga detik ini, partner saya tersebut tidak menyadari bahwasanya saya pernah menjadikannya “alat” eksperimen).

Lagipula, saya sejak awal saya punya tenggat berapa lama saya melakukan eksperimen saya tersebut; saya tak ingin berlarut-larut.

Pun saya juga sudah paham risiko apa yang akan saya tuai dari pasangan saya menyoal ini dan gambling tentu saja adalah sesuatu yang tak terelakkan—meski jujur, tak ada sedikit pun niat saya menciderai perasaan pasangan.

Trigger perselingkuhan yang saya lakukan tersebut adalah bentuk upaya terakhir saya—dan tidak sebaiknya dicontoh jika kau tak siap mental dengan hasil akhirnya.

Tolong jangan dicoba; hubunganmu dengan pasanganmu tidak sebercanda itu.

Memang, pada akhirnya keadaan hubungan saya dengan pasangan saya tetap baik-baik saja—alih-alih runyam—setelah saya mengungkapkan apa alasan saya melakukannya, dan kabar baiknya pasangan saya bisa menerima itu (baca: perselingkuhan coba-coba ala saya) dengan lapang dada disertai koreksi masing-masing dari kami.

Apakah ini aib yang sengaja saya beberkan?

Bisa jadi “ya” bisa pula “tidak”; semua tergantung pada siapa yang memberikan tanggapan.

Apakah saya tidak takut dinilai sebagai sosok yang jahat—lagi tak bernurani—oleh orang-orang atas perbuatan yang saya lakukan?

Well, jahat atau tidaknya saya sebagai individu, semua berpulang lagi pada penilaian setiap orang; saya hanya ingin mengemukakan contoh valid dari tulisan ini—semoga bisa dijadikan pelajaran.

Sebuah hubungan tak sekadar cinta semata melainkan apresiasi dan memahami kebutuhan/keinginan pasangan. (Sumber: Unsplash/Foto oleh Kristina Litvjak)

Boleh saya katakan, perselingkuhan adalah satu bentuk kegagalan seseorang dalam berkomunikasi dengan pasangannya—semua berbicara tentang bagaimana mengungkapkan isi hati atas kebutuhan dan atau keinginan.

Apalagi jika seseorang tersebut tidak terlalu jago bicara seperti halnya saya, wah makin runyam.

Baca juga: Selalu Ada Hipotesis untuk Dia yang Jago Bicara
Baik kebutuhan dan atau keinginan adalah—dua—hal yang krusial namun sangat manusiawi dalam sebuah hubungan dan menurut saya urgensinya bergantung pada individu yang menyikapinya.

Setidaknya, bercermin dari pengalaman (baca: yang disertai proses kontemplasi) dari apa yang telah terjadi, izinkan saya memberikan dua (2) simpulan penyebab terjadinya sebuah perselingkuhan.

1 Dilakukan karena pilihan

Tidak ada kata khilaf untuk sebuah perselingkuhan. Karena perbuatan selingkuh dilakukan dengan kesadaran: logika berperan.

Maka, saya dengan percaya diri mengatakan bahwa perselingkuhan dilakukan para pelakunya sebagai bentuk pilihan.
Para pelaku perselingkuhan (baca: saya contohnya) menyadari betul akan hal ini. Si pelaku sudah menimbang akibat-akibat apa yang akan timbul—namun, letak masalahnya adalah si pelaku tetap nekad melakukan itu.

Salahkah itu?

Tentu saja.

Ya, perselingkuhan tentu berangkat dari sesuatu yang dirasa salah; tidak terarah. Dengan kata lain, hubungan itu tidak berjalan semestinya.

“Pilihan” untuk melakukan perselingkuhan ini juga bisa berangkat dari banyak faktor seperti rendahnya pemahaman seseorang terhadap sebuah nilai komitmen yang diakibatkan relasi yang buruk di masa lalu, merasa lebih baik dari orang lain (baca: merasa lebih tampan/cantik, lebih berduit dlsb) sehingga butuh orang lain untuk dijadikan validasi—hingga tabiat berulang yang menimbulkan semacam “candu”.

Untuk poin terakhir, bahkan saya kenal beberapa orang pelakunya; mereka real melakukannya—dan tentu saja tak cukup sekali.

2 Dilakukan karena kesempatan

Selanjutnya, perselingkuhan yang dilakukan karena adanya kesempatan.

Saya tidak bisa mengatakan apakah ada perbedaan yang mencolok atau tidak dari perselingkuhan yang dilakukan berdasarkan “pilihan” yang saya kemukakan sebelumnya—hanya saja, saya memiliki hipotesis lain menyoal ini.

Saya beranggapan, mungkin perselingkuhan yang dilakukan berdasarkan “kesempatan” ini tidak murni diniatkan oleh para pelakunya.
Mengapa saya katakan demikian?

Ini bisa saja terjadi karena ada faktor-faktor pemicu lain yang berasal dari luar diri si pelaku, seperti “godaan” dari lawan jenis—atau bahkan sugesti dari orang lain (baca: bisa teman—atau malah kerabat dekat) tentang bahwasanya si pelaku bisa mendapatkan yang lebih baik dari pasangannya saat ini—yang tentu saja telah dicari-cari terlebih dahulu sisi-sisi buruknya dari pasangannya tersebut dengan harapan menggoyahkan pendiriannya—alih-alih pada akhirnya si pelaku sendirilah yang mencari kekurangan pasangannya.

Ups.

Sebuah hubungan acapkali lebih mudah mengawali dibandingkan mempertahankannya.
(Sumber: Unsplash/Foto oleh Carly Rae Hobbins)

Ya, perselingkuhan, tak satupun orang menginginkannya—sekalipun itu orang yang mungkin saja pernah melakukannya.

Dia berbicara pada satu hal: tak ingin disakiti; ada ego—dan itu mustahil dilakukan tanpa alasan yang kuat dan diwaktu yang tepat.

Sehingga untuk mencegah terjadinya perselingkuhan sejatinya dibutuhkan lebih banyak komunikasi di antara kedua belah pihak yang menjalin hubungan: perbanyak apresiasi serta jujur dan terbuka dalam memahami kebutuhan dan atau keinginan dari pasangan.

Ingat saja ini sebelum ada niat untuk melakukan perselingkuhan bahwa untuk menjalin komitmen jangka panjang, mempertahankan hubungan jauh lebih sulit daripada memulai perkenalan.

Selingkuh? Plis dong ah, jangan coba-coba!

Related posts