Tzuyang kembali membuat konten kuliner di Indonesia pada Mei 2026. Food vlogger asal Korea Selatan tersebut mengunjungi Bandung dan mencicipi berbagai makanan lokal, termasuk sate maranggi. Dalam salah satu kontennya, Tzuyang menghabiskan 110 tusuk sate maranggi.
Kedatangannya kembali menarik perhatian pencinta kuliner. Bukan hanya karena kemampuan makan dalam jumlah besar, tetapi juga karena makanan Indonesia yang masuk ke dalam konten seorang kreator Korea dengan jutaan penonton.
Fenomena tersebut menarik untuk dilihat dari sisi lain. Kehadiran food vlogger asing dapat membuat makanan lokal mendapatkan perhatian dari penonton yang sebelumnya mungkin belum mengenalnya.
Tzuyang dan Konten Mukbang
Tzuyang dikenal sebagai salah satu kreator mukbang populer dari Korea Selatan. Kontennya menampilkan dirinya menikmati makanan dalam porsi besar, termasuk berbagai hidangan Korea dan makanan dari negara lain.
Istilah mukbang sendiri berasal dari budaya konten Korea yang menampilkan seseorang makan sambil berinteraksi dengan penonton.
Format tersebut kemudian berkembang menjadi konten kuliner global. Kreator tidak hanya menyantap makanan dari negaranya sendiri, tetapi juga melakukan perjalanan untuk mencoba makanan khas berbagai daerah.
Tzuyang termasuk kreator yang beberapa kali membawa kontennya ke Indonesia.
Bukan Kali Pertama Tzuyang Mencicipi Kuliner Indonesia
Hubungan Tzuyang dengan kuliner Indonesia sebenarnya sudah berlangsung beberapa tahun.
Pada 2024, ia sempat mengunjungi sejumlah tempat makan di Jakarta. Salah satunya adalah warung sederhana di kawasan Kebon Sirih. Dalam kunjungan tersebut, ia mencicipi nasi goreng, mi goreng, sop iga, sop ayam kampung, hingga mi instan.
Ia juga pernah membuat konten di Sambal Bakar Indonesia. Dalam kunjungan tersebut, Tzuyang mencoba 28 menu yang terdiri dari berbagai makanan dan minuman.
Kunjungan-kunjungan tersebut memperlihatkan bahwa kuliner Indonesia tidak hanya menarik perhatian wisatawan biasa. Makanan lokal juga bisa menjadi bagian dari konten kreator internasional.
Sate Maranggi Kembali Menjadi Sorotan
Kunjungan Tzuyang ke Bandung pada Mei 2026 memberikan perhatian baru kepada sate maranggi.
Dalam konten terbarunya, ia mengunjungi tempat makan sate maranggi dan mengonsumsi 110 tusuk. Jumlah tersebut bahkan melampaui catatan 101 tusuk sate maranggi yang pernah ia santap di Indonesia pada 2024.
Tentu saja, angka tersebut menjadi bagian yang paling mudah menarik perhatian penonton.
Namun, ada hal lain yang tidak kalah menarik. Makanan yang menjadi bagian dari tantangan makan tersebut merupakan kuliner khas Indonesia.
Konten seperti ini secara tidak langsung memperkenalkan nama makanan kepada penonton dari berbagai negara.
Mengapa Food Vlogger Bisa Membantu Mengenalkan Kuliner Lokal?
Food vlogger memiliki cara tersendiri dalam memperkenalkan makanan. Mereka tidak hanya menyebut nama makanan, tetapi juga memperlihatkan bentuk, proses penyajian, tekstur, dan reaksi ketika mencicipinya.
Penonton akhirnya mendapatkan gambaran yang lebih nyata.
Ketika seorang kreator dari luar negeri mencoba makanan Indonesia, penonton internasional juga bisa ikut mengenal makanan tersebut.
Efeknya tidak selalu langsung terlihat dalam bentuk penjualan. Namun, semakin sering sebuah makanan muncul dalam konten internasional, semakin besar pula peluang orang mengetahui namanya.
Hal ini membuat konten kuliner dapat menjadi salah satu bentuk promosi budaya yang berjalan melalui media digital.
Makanan Sederhana Juga Bisa Menjadi Bintang
Salah satu hal menarik dari konten Tzuyang di Indonesia adalah pilihan makanannya tidak selalu berasal dari restoran mewah.
Ia juga pernah menikmati makanan di warung sederhana. Dalam kunjungannya ke warung dekat rel kereta di Jakarta, ia bahkan mengatakan menyukai makanan yang disajikan dan menilai harganya murah.
Fenomena ini menunjukkan bahwa daya tarik kuliner tidak selalu bergantung pada tempat yang mewah.
Warung kecil dengan makanan khas daerah juga dapat menarik perhatian ketika memiliki cita rasa yang kuat dan pengalaman makan yang menarik.
Bagi kuliner lokal, perhatian seperti ini tentu dapat membuka peluang untuk dikenal oleh audiens yang lebih luas.
Media Sosial Membuat Kuliner Mudah Menyeberang Negara
Dahulu, seseorang mungkin mengenal makanan asing melalui perjalanan atau acara televisi. Kini, media sosial membuat proses tersebut jauh lebih cepat.
Seseorang di Korea dapat melihat makanan Indonesia melalui video seorang kreator. Penonton di Indonesia juga dapat melihat makanan Korea melalui konten yang dibuat kreator lain.
Pertukaran seperti ini membuat makanan semakin mudah berpindah dari satu budaya ke budaya lain.
Mukbang juga memiliki keunggulan visual. Penonton dapat melihat makanan dalam jumlah nyata dan menyaksikan langsung reaksi kreator ketika mencicipinya.
Karena itu, satu video kuliner dapat memperkenalkan sebuah makanan kepada penonton yang berasal dari berbagai negara.
Popularitas Kreator dan Kuliner Lokal Saling Bertemu
Kehadiran Tzuyang di Indonesia memperlihatkan pertemuan antara popularitas seorang kreator dengan kekayaan kuliner lokal.
Tzuyang membawa audiens internasional, sedangkan Indonesia memiliki beragam makanan dengan karakter rasa yang berbeda.
Sate maranggi, sambal, sop iga, bakmi, hingga berbagai makanan khas daerah dapat menjadi bagian dari cerita kuliner tersebut.
Menariknya, setiap makanan juga memiliki identitas sendiri. Ketika masuk ke dalam konten internasional, nama makanan dan karakter rasanya ikut diperkenalkan kepada penonton baru.
Kuliner Indonesia Punya Banyak Pilihan untuk Dikenalkan
Indonesia memiliki banyak makanan daerah yang belum tentu dikenal luas oleh masyarakat internasional.
Konten food vlogger dapat menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan makanan tersebut secara lebih luas. Apalagi jika kontennya mendapatkan banyak perhatian dari penonton.
Namun, popularitas sebuah makanan tetap bergantung pada banyak faktor. Rasa, harga, kualitas, kebersihan, akses, serta pengalaman pelanggan tetap memiliki peran penting.
Konten viral dapat membuat orang penasaran. Setelah itu, pengalaman nyata ketika mencoba makanan akan menentukan bagaimana mereka menilai makanan tersebut.
Kehadiran Tzuyang di Indonesia pada 2026 kembali memperlihatkan bagaimana konten mukbang dapat mempertemukan kreator internasional dengan kuliner lokal. Dari sate maranggi hingga makanan warung sederhana, berbagai hidangan Indonesia mendapatkan ruang untuk diperkenalkan kepada penonton yang lebih luas.
Baca juga: Mukbang Salmon Mentah: Tren Kuliner Jepang yang Mendunia
